Upaya mendukung dan meningkatkan komitmen lembaga pendidikan tinggi sebagai bentuk pelaksanaan Tri Dharma PT, STIE Putra Bangsa menggelar pelatihan untuk mendampingi para UMKM sebagai mitra binaan dalam pengembangan produk, serta kemampuan memahami pasar untuk meningkatkan daya saing industrinya. Kegiatan ini diikuti oleh para pengrajin songkok yang merupakan mitra program kegiatan PKM (Program Kegiatan Masyarakat). Kegiatan ini merupakan kegiatan yang didukung oleh Kemenristekdikti sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pengembangan produk dan peningkatan pasar.

Kegiatan yang menggandeng 2 mitra binaan, yakni usaha songkok merek Dolar Mas milik Moh Bisri Mustofa dan songkok merek Bir Ali milik Fajar Subhi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mengenai produk dan pasar. Hal ini disebabkan bahwa songkok sampai saat ini masih bertahan pada konsep turun temurun dari kakek moyangnya. Sigit Wibawanto, SE.,MM, selaku ketua Program Kemitraan Masyarakat (PKM), mengungkapkan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat program pengabdian masyarakat dari Kemenristekdikti yang dijalani selama satu tahun ini. “Songkok sebagai produk yang berbasis budaya, masih cukup relevan untuk dikembangkan sebagai produk massal dan memiliki nilai yang layak menjadi industri fashion kedepan” ujar Sigit. Hadir pula Marynta Putri Pratama S.E., M.Si  dan Muhamad Baehaqi, SE.,MM, selaku dosen Prodi Manajemen juga ikut memberikan pelatihan mengenai pengembangan produk dan pasar. Hal ini diharapkan agar produk songkok yang dibuat pengrajin dapat meningkat secara kualitas dan kuantitas produksinya.

Kesiapan dalam pengembangan pasar yang kompetitif, pengrajin songkok harus mampu membuat varian produk dari produk yang selama ini dibuatnya. Peningkatan desain harus selalu disesuaikan dengan perubahan yang berkembang sesuai dengan kebutuhan pasar yang berkembang melalui pencarian informasi, latihan dan pengalaman orang lain, kuncinya adalah harus bisa terinspirasi.

Jika sebelumnya hasil songkok yang dibuat pengrajin beberapa produk dikemas dalam satu jenis desain, dengan pelatihan pengrajin diharapkan dapat terus berinovasi dan menciptakan varian produk dengan kemasan baru untuk beberapa variasi pilihan songkok yang dibuatnya. Hal ini agar pengrajin dapat menghadapi persaingan dan permintaan pasar untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya. Sebelumnya, pengrajin songkok ini telah diberikan dukungan motivasi oleh pendamping dengan memberikan informasi dan pengalaman ilmu baru bagi pengrajin untuk menciptakan hasil produksi songkoknya. “Diharapkan hasil produk songkok ini berbeda dengan bulan dan tahun-tahun sebelumnya, bisa meningkat kuantitas dan kualitas produksinya, memiliki ciri khas sendiri, dan dapat diterima di pasar. Yang lebih penting adalah meningkatnya penjualan dan kesejahteraan pengrajin songkok itu sendiri” ujar Sigit Wibawanto, S.E., M.M.

Setelah mengikuti pelatihan, para pengrajin segera dapat meningkatkan kuantitas produksinya dengan penambahan mesin jahit yang diberikan Kemenristekdikti. Selain itu, kualitas produksinya bisa ditingkatkan dengan desain kemasan baru yang lebih kompetitif disesuaikan dengan varian produknya. Disamping itu, metode pengembangan pasar juga telah diberikan pelatihan dengan akses ke media online yang berkembang saat ini. Selama ini produk yang dihasilkan masih seperti kebanyakan home industri pada umumnya, hal ini dikarenakan terbatasnya pengetahuan. Pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan produk dan pasar masih sangat dibutuhkan untuk mengarahkan potensi sebagai upaya pengembangan kemasan dan metode pengembangan pasar, ”terang Sigit. Diharapkan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini berlanjut terutama untuk mendukung produksi terutama dalam pemenuhan bahan baku utama dan alat pendukung produksi lain yang belum terpenuhi dalam program kemitraan saat ini.