Lomba Tari Kreasi Cepetan digelar untuk memeriahkan Dies Natalis 17 STIE Putra Bangsa Kebumen pada Sabtu,  7 April 2018. Lomba ini diikuti oleh siswa SMA/SMK  di Kebumen yang dilaksanakan di Aula Ronggowarsito.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua STIE Putra Bangsa Bapak Gunarso Wiwoho, SE.,MM mengusung  tema tentang “Tari Kreasi sebagai Wujud Eksistensi Kreativitas Seni Modern”. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai salah satu wujud kontribusi STIE Putra Bangsa dalam melestarikan budaya Kebumen. Beliua juga berharap dengan diselenggarakannya lomba tari kreasi cepetan ini mampu melestarikan budaya-budaya negeri kita. Dilanjutkan dengan penampilan pertama perwakilan dari SMA N 1 Petanahan.

Kesenian cepetan sendiri merupakan kesenian tradisional asli Kebumen, tepatnya berasal dari Kecamatan Karanggayam. Perlu di ketahui, bahwa cepetan adalah jenis tari topeng yang di ciptakan pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1943. Bermula dari susahnya pangan pada saat itu membuat warga Karanggayam masuk kedalam hutan untuk membuka lahan. Setelah sekian lama warga membuka lahan dan ternyata hasilnya melimpah, banyak gangguan yang dialami warga selama mereka bercocok tanam di lahan baru yang bernama Curug Bandung  Di Curug Bandunglah lahir tari cepetan, ada pula yang menyebutkan cepetan alas adalah gambaran perjuangan warga karanggayam terhadap penjajah waktu itu.

 

Panitia menggandeng dua orang juri ekternal dari Sanggar Rumah Budaya Kebumen yaitu Esti Kurniawati dan Vera Setia Pratama, serta satu juri dari internal Saudara Arif Rahmat Hidayat. Adapun aspek penilaian yakni wiraga, wirama, kesesuaian, kostum dan make up sesuai dengan tarian. Lahir sebagai Juara 1 diraih oleh perwakilan dari SMA N 1 Gombong,  juara 2 diraih oleh SMK N 1 Gombong,  dan juara 3 diraih oleh SMA N 1  Petanahan. Penyerahan tropy dan hadiah dilakukan oleh bapak Gunarso Wiwoho, perwakilan juri dan ketua panitia.

“Semoga generasi muda khususnya di Kabupaten Kebumen dapat melestarikan budaya di tengah maraknya arus globalisasi kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia” ujar  etik, ketua panitia kegiatan tersebut.